Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Post Icon

TEPATILAH JANJIMU



Lisan atau lidah manusia memang gemar membuat janji, tetapi seringkali pula jiwa tidak ingin menepati janji yang dibuat oleh lisan . Maka dengan demikian terjadilah apa yang disebut kebohongan, Dalam pepatah  dikatakan bahwa lidah tak bertulang. Artinya, lidah begitu mudahnya bergerak kesana kemari dalam mulut untuk membentuk rangkaian kata yang disebut janji tetapi tak pernah ditepati oleh sang pemilik lidah.

Dalam pergaulan sehari-hari sering kita mendengar bahwa janji adalah hutang yang harus dibayar dan ada pula yang mengatakan bahwa seseorang itu yang dipegang adalah janjinya atau dipercayanya seseorang itu dikarenakan oleh ketepatan orang tersebut melaksanakan janjinya.

Janji memang ringan diucapkan namun berat untuk dilaksanakan. Misalnya, banyak orang tua yang mudah mengobral janji kepada anaknya tetapi tak pernah ditepati. Padahal Rasulullah Saw telah memberikan teladan  yang jelas dalam hal menepati sebuah janji. Demikian juga apa yang tertera dalam Al-Quran:
1.       An-Nahl ayat 9 :
Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu sesudah menegakkannya.
2.       Al-Isra’ ayat 34:
Dan patuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggung jawabannya

Menepati janji bukan sekedar datang dengan waktu seenak-nya. Jika sudah membuat janji dengan waktu tertentu, datanglah tepat waktu. Terlambat satu menitpun, tetap disebut terlambat walaupun sebenarnya tidak perlu dipersoalkan dengan asumsi perbedaan jam di tangan masing-masing orang  berbeda ( bisa selisih lima sampai sepuluh menit). Memang dalam hal ini kita mengklaim  tepat waktu, tetapi jam di tangan orang lain bisa saja menganggap kita termasuk orang terlambat. Karena itu lebih baik kiranya jika kita datang lima sampai sepuluh menit lebih awal.

Untuk membiasakan diri menepati janji maka dalam hal ini kita perlu menanamkan jujur dalam diri. Apa arti jujur dalam diri ? Jujur dalam diri adalah mengatakan sesuatu yang kita tahu dalam diri kita baik itu daya upaya, ketentuan dan lain sebagainya. Kalau kita tidak jujur dalam diri, bagaimana kita akan jujur pada orang lain? Itu yang jadi persoalan terutama janji dan semua yang termasukJ aspek kehidupan dalam diri kita sendiri. Karena bukan saja menunjukkan pribadi kita tapi juga simbol kepercayaan pada orang lain.

Jika berjanji peganglah erat , beritahu dari awal bila terjadi  pembatalan. Jangan sampai  orang yang kita beri janji menunggu dengan sia-sia. Karena janji adalah amanah. Amanah dalam diri kita. Janganlah mencari alas an yang kadang tidak masuk akal dan sekedar untuk penyejuk jiwa. Jujurlah pada diri sendiri . Masalah tidak menepati janji dapat dimaafkan apabila alasannya benar-benar penting seperti misalnya sakit, kecelakaan, ada keluarga yang mengalami musibah dan kepentingan umum yang mendadak  dan tidak bisa ditunda . Hal tersebut sangat bisa dimaklumi. Tetapi jika alasannya karena pribadi……maka untuk apa membuat janji kalau hanya untuk diingkari. Karena tidak  ada seorangpun yang tidak marah kalau kita ingkar janji. Lebih baik kita katakantidak untuk sebuah janji ataupun bila terpaksa harus berjanji maka katakanlah insyaallah yang artinya jika diizinkan Allah Swt.

Semoga Allah menjauhkan kita dari salah satu sikap yang mengantarkan kita pada kemunafikan yaitu dengan selalu tepat dalam memenuhi janji-janji kita. Amiin Ya Robbalamin.






Hubungi : http://www.dbc-network.com/index.php?id=solehah

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar